Midtown Hotel Surabaya Beber Resep Rujak Campur Kecombrang
MIDTOWN Hotel Surabaya mengusung konsep pecinan dengan memadukan bumbu rujak dan kecombrang. Konsep Rujak Uleg Kampoeng Pecinan sengaja dibuat untuk mengenalkan perpaduan makanan khas Surabaya yakni rujak cingur dengan chinesse food.
Di Indonesia ada rujak uleg atau rujak cingur. Nah di China ada rujak. Bedanya, menggunakan kecombrang. Dari sinik lahirnya bumbu rujak kecombrang.
Bumbu-bumbu yang digunakan, sama persis seperti membuat rujak uleg. Cabai merah, gula merah, air asam, kacang, petis dan pisang klutuk. Hanya ada tambahan kecombrang sehingga menambah aroma bunga jahe dan petis udang.
Rujak China disebut kategori rujak buah. Namun dalam kontes ini, Chef dari Midtown Hotel membuat rujak cingur. Untuk mempertahankan citarasa, kunci dari paduan rujak ini terletak pada kacang.
“Kalau di rujak cingur kacang diulek, tapi kalau di rujak China kacang tidak dicampur. Hanya dihancurkan dan ditabur di atasnya,” ucap Chef Sandy Sumartono, Sous Chef Midtown Hotel Surabaya.
Perbedaan sajian bumbu rujak dengan kacang dan kecombrang ini tidak mengurangi rasa. Rasa tetap sama seperti rujak pada umumnya hanya saja lebih aromatik dan berbeda dalam tampilan.
Pilihan WaniMbambung
Midtown Hotel Surabaya berhasil menyabet predikat juara 1 dalam gelaran Festival Rujak Uleg Kota Surabaya. Dalam kontes ini Midtown Hotel Surabaya ingin masyarakat memahami sejarah makanan khas Surabaya tersebut.
Untuk menambah unsur Kampoeng Pecinan, tim menampilkan dekorasi ala pecinan yang oriental. Dekorasi dominan warna merah dan kuning keemasan ini dibuat dari bahan-bahan daur ulang hotel.
Pihak hotel membuat bentuk naga sepanjang tiga meter dari kardus-kardus bekas tisu roll dan kardus air mineral. Bahan-bahan tersebut dibuat untuk badan hingga detail sisik naga.
Gapura pecinan dibuat setinggi maksimal satu meter. Bahan karet sendal hotel disulap menjadi gapura cantik nan kokoh. Bahan spon ati atau karet alas sandal hotel disebut lentur dan cukup tahan, sehingga bisa lebih praktis bisa digulung dan dapat digunakan lain waktu.
Setidaknya ada dua orang yang membuat gapura tersebut, selebihnya mempersiapkan untuk event rujak ulek di Balai Kota Surabaya. Ornamen-ornamen guci china juga dimanfaatkan untuk wadah bahan-bahan bumbu rujak. (*)