Krabi : Di Sini Saya Tertipu
Saya naik kereta dari Bangkok. Nggak ada, direct train ke kota ini. Jadi, sama petugas tiket Stasiun Hualampong disarankan beli tiket terusan. Maksudnya, Bangkok-Surathani (kereta), lalu sambung minivan ke Krabi. Waktu itu, nggak sampai 800 baht. Keretanya bisa buat duduk, sekaligus untuk tidur.
Krabi adalah salah satu provinsi di yang terletak di bagian selatan Thailand, sepanjang garis pantai Laut Andaman. Berbatasan langsung dengan provinsi Phang Nga, Surat Thani, Nakhon Si Thammarat and Trang.
Krabi berjarak sekitar 800 km dari Bangkok, dapat dicapai melalui jalan darat dengan waktu tempuh sekitar 12 jam atau dengan maskapai penerbangan Thai Airways dan Bangkok Airways dari Bangkok, AirAsia dari Kuala Lumpur atau Bangkok, sementara jika dari Singapura, dapat menggunakan Tiger Airways.
Dua hari di Krabi. Hari pertama yang mengejutkan. Naik angkot ke Tiger Cave, turun terus naik ojek. Hahahaha, ada 1200-an tangga di Tiger Cave, yang naik ke bukit. Di puncaknya, ada patung Budha yang indah. Sayange, cuman kuat 500-an tangga. Terus mbalek turun.
Usia nggak iso boong dab. Balung tuwo, dengkule wis kocak. Belum lagi napas ngos-ngosan, tanda nggak pernah olahraga. Jadinya, sedikit-sedikit berhenti. Hirup udara banyak-banyak. Naik lagi, tangga yang curang, nyaris ada yang 90 derajat. Ampun, ampun deh.
Belum lagi, kecemasan serangan monyet kelaparan. Apalagi, sebelum naik, ada rombongan anak muda Malaysia, naik sambil teriak-teriak. Bikin si monyet lari tunggang langgang. Tapi, ada yang menggoda juga, jadinya si monyet balas dendang. Dia berani menyerang siapa saja yang naik.
Saya hendak balik ke kota. OMG, nggak ada tukang ojek. Adanya kayak betor, becak montor. Tapi ini nggak didorong dari belakang. Si pengemudi ada di samping. Inget, kayak kendaraan zaman Perang Dunia I. Yang punya tentara Jerman itu. Tau to dab. Ntar digogling yo.
Saya bilang, bisa antar saya ke Aonang Beach. Sopirnya, pemuda lokal, mengangguk. Berapa, saya tanya. Dia bilang fifty baht. Saya oke saja. Lha, wong nek naik angkot ya segitu. Cuma dia bilang, harus antar pasangan bule asal Australia dulu. Saya oke.
Jadi, itu betor ala Krabi, muat lima orang. Satu sopir dan empat penumpang. Di kanan saya, duduk pasangan bule itu. Dan, wes hewes hewes, bentor melaju kencang, membelah jalangan, menuju Aonang Beach. Busyet, jalannya beraspal halus.
Di suatu tempat, sopir menurunkan pasangan bule itu. Sopir kemudiang mengangkut saya. Duh, koyok barang ae, diangkut. Sampai di sebuah tempat, sudah terdengar deburan ombak pantai, dia berhenti dan bilang : Kita sudah sampai Aonang Beach. Ongkosnya, 500 baht.
Saya melongo. Lho, lho, tadi bilangnya fifty baht. No, no, five hundred baht, tukasnya nggak mau kalah. Lalu, dia mengeluarkan lembaran kertas yang tersimpat di bagasi bentornya. Dia tunjukkan tarif angkut dari Tiger Cave ke Aonang Beach. Lha, bajingan to dab. Jancuk tenan.
Untung saya masih punya cadangan uang tunai. Kalau nggak, lak isok dodolan ransel Deuter kebanggaan saya. Dengan sedikit menangis (dalam hati), saya sodorkan 500 baht ke tangannya. Dia menerima dengan cepat dan pergi dengan cepat pula. Terkutuklah kamu, umpat saya.
Hari itu, mungkin saya memang apes. Akhirnya, saya gagal menikmati Aonang, duduk-duduk saja di dekat pepohonan. Nggak semangat lagi. Padahal, Ao Nang merupakan pusat pariwisata di Krabi, Pantai Ao Nang memiliki garis pantai sepanjang dua puluh kilometer dari kota Krabi dan enam kilometer dari pantai Noppharat Thara.
Ao NAng menyuguhkan pemandangan pantai yang sangat indah yang menjadikan sebagai atraksi yang sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara. Akhirnya, ketimbang duduk, saya membeli makanan sebelum akhirnya naik angkot dan pulang kembali ke hotel. (*)